Sharing Ilmu Islam

Siapakh KH. Tubagus Muhammad Asnawi Caringin


330px-syekh_asnawi

Syekh Asnawi bin Abdurrahman al-Bantani atau yang lebih dikenal dengan nama Syekh Asnawi Caringin adalah seorang ulama dari Banten. Syekh Asnawi lahir di Kampung Caringin, Labuan, Banten sekitar tahun 1850 Masehi di tengah keluarga yang religius. Sang ayah, Syekh Abdurrahman bin Syekh Afifuddin, dan ibunya, Ratu Sabi’ah (Rabiah), berasal dari keluarga yang kental berislam. Bahkan, disebutkan pula bahwa Syekh Asnawi masih keturunan Sultan Agung dari Mataram atau keturunan Raden Patah

Biografi
Pada usia yang masih sangat belia, sembilan tahun, Syekh Asnawi sudah dikirim ayahnya untuk menuntut ilmu ke Mekkah. Di Tanah Suci, Asnawi kemudian bertemu gurunya, Syekh Nawawi al-Bantani, yang merupakan guru di Masjidil Haram. Bukan sekadar karena sama-sama kelahiran Banten Asnawi dapat dekat dengan sang guru. Namun, kecerdasannya juga membuat Syekh Nawawi mengajarkan banyak hal padanya.

Bertahun-tahun Asnawi belajar di tanah kelahiran Islam. Hingga ketika dirasa telah mumpuni dalam agama, ia pun dipercaya untuk mendakwahkan Islam. Maka, Syekh Asnawi pun pulang kembali ke tanah lahirnya, Banten. Ia pun mulai mengajar dan mengundang ketertarikan banyak pemuda hingga menjadi muridnya. Tersiarlah nama Asnawi sebagai ulama di kawasan Banten dan sekitarnya. Kepiawaiannya dalam berdakwah membuat nama Syekh Asnawi tersohor sebagai ulama besar di Banten.

Peran Kebangsaan
Tak hanya mengajarkan agama, Syekh Asnawi juga terkenal semangatnya yang menggebu dalam melawan penjajah. Ia mengobarkan semangat pemuda untuk melawan dan menentang kolonialisme Belanda. Apalagi, saat itu seluruh wilayah Banten berhasil dikuasai penjajah. Bahkan, tak hanya mengobarkan semangat kemerdekaan lewat lisan, tapi juga aksi. Syekh Asnawi juga dikenal memiliki ilmu bela diri yang sakti.

Syekh Asnawi yang tangguh dan berhasil mengajak pemuda untuk melawan penjajah pun menjadi ancaman bagi Belanda. Apalagi, Banten dikenal sebagai tempat lahirnya para ‘pemberontak’ Belanda, bukan hanya dari kalangan rakyat biasa, melainkan juga dari kalangan ulama. Alhasil, kiai pernah ditahan oleh penjajah di Tanah Abang serta diasingkan ke Cianjur. Ia dihukum lebih dari setahun dengan tuduhan melakukan pemberontakan. Namun, selama ditahan dan diasingkan, kiai tetap aktif menyampaikan dakwah Islam. Ia mengajarkan syariat Islam kepada masyarakat sekitar di manapun ia berada.

Mendirikan Madrasah dan Masjid Caringin
Seusai diasingkan, Syekh Asnawi kembali ke kampungnya di Caringin. Karena situasi yang lebih aman, ia semakin giat mensyiarkan Islam. Ia pun mendirikan sebuah Madrasah Masyarikul Anwar dan masjid di Caringin pada 1884. Masjid tersebut bernama Masjid Caringin yang hingga kini masih berdiri tegak. Ada kisah yang beredar di masyarakat bahwa kayu untuk bangunan masjid tersebut berasal dari sebuah pohon yang dibawa Syekh Asnawi dari Kalimantan. Pohon tersebut hanya satu, namun menghasilkan banyak kayu karena keberkahan sang Syekh.

Beberapa sumber menyebutkan, pembangunan Masjid Caringin oleh Syekh juga ditujukan untuk membangun kembali peradaban masyarakat yang hancur akibat letusan Gunung Krakatau pada 1883. Syekh Asnawi ingin membangun kembali akidah masyarakat dengan didirikannya sarana masjid tersebut. Sejak masjid berdiri, dakwah pun makin menggeliat. Banyak pemuda datang untuk berguru kepadanya. Syekh Asnawi pun menghabiskan usianya untuk pengajaran agama dari tempat kelahirannya, Caringin.

Wafat
Setelah banyak kiprah yang ditorehkan bagi masyarakat, terutama masyarakat Banten, Syekh Asnawi menghembuskan napas terakhir pada 1937 Masehi. Ia meninggalkan banyak sekali anak, yakni 23 putra dan putri. Ia dimakamkan di dekat masjid yang ia bangun, Masjid Caringin. Hingga kini, banyak masyarakat yang rajin berziarah ke makamnya

Tulisan diatas, Sumber : Wikipedia

Saya teringat sekitar tahun 1992 , ketika masih di bangku Madarasah Aliyah mengadakan Tour Ziarah keliling Banten ke maqom para Auliya . Ada satu tempat yang sangat menarik yang saya kunjungi di suatu kampung bernama Caringin kecamatan Labuan Pandegalang Banten. Kampung Caringin dengan pesona Laut yang sangat mempesona diambil dari kata “beringin” yang artinya “pohon teduh yang Rindang disana terdapat Maqom Auliyaillah seorang ulama pejuang bernama KH.ASNAWI yang orang kampung biasa memanggil dengan sebutan “mama Asnawi” yang telah mengayomi masyarakat yang dianalogikan sebagai pohon beringin .

KH.Asnawi lahir di Kampung caringin sekitar tahun 1850 M, ayah beliau bernama Abdurrahman dan ibunya bernama Ratu Sabi’ah dan merupakan keturunan ke 17 dari Sultan Ageng Mataram atau Raden Fattah . Sejak umur 9 tahun Ayahnya telah mengirim Kh.Asnawi ke Mekkah untuk memperdalam Agama Islam. Di mekkah beliau belajar dengan Ulama kelahiran Banten yang telah termasyhur namanya bernama Syech Nawawi Al Bantani.Kecerdasan yang di miliki beliau dengam mudah mampu menyerap berbagai dsiplin ilmu yang telah di berikan gurunya. Setelah dirasa cukup lama menimba ilmu dari gurunya maka Syech Nawawi Tanara Banten menyuruh muridnya Kh.Asnawi untuk pulang ketanah air untuk mensyiarkan agama Alloh.

Sekembalinya dari Mekkah Kh.Asnawi mulai melakukan dakwah ke berbagai daerah , karena ketinggian ilmu yang dimiliki nama Kh.Asnawi mulai ramai dikenal orang dan menjadi sosok ulama yang menjadi panutan masyarakat Banten. Situasi Tanah air yang masih di kuasai Penjajah Belanda dan rusak nya moral masyarakat pada waktu membuat Kh.Asnawi sering mendapat Ancaman dari pihak pihak yang merasa kebebasannya terusik. Banten yang terkenal dengan Jawara jawaranya yang memiliki ilmu Kanuragan dan dahulu terkenal sangat sadis dapat di taklukkan berkat kegigihan dan perjuangan Kh.Asnawi . Beliau juga terkenal sebagai Ulama dan Jawara yang sakti yang sangat di segani oleh kaum Penjajah Belanda .Kh.Asnawi dalam melakukan dakwahnya juga mengobarkan semangat Nasionalisme anti Penjajah kepada masyarakat hingga akhirnya Kh.Asnawi di tahan di Tanah Abang di asingkan ke Cianjur oleh Belanda selama kurang lebih satu tahun dengan tuduhan melakukan pemberontakan kepada pemerintah Hindia Belanda , Apa yang dilakukan Kh.Asnawi mendapat dukungan penuh dari rakyat dan dan para ulama lainnya, seperti para bangsawan dan para jawara. Semenjak runtuhnya kesultanan Banten, terjadi sejumlah pemberontakan yang sebagian besar dipimpin oleh tokoh-tokoh agama. Seperti, pemberontakan di Pandeglang tahun 1811 yang dipimpin oleh Mas Jakaria, peristiwa Cikande Udik tahun 1845, pemberontakan Wakhia tahun 1850, peristiwa Usup tahun 1851, peristiwa Pungut tahun 1862, kasus Kolelet tahun 1866, kasus Jayakusuma tahun 1868 dan yang paling terkenal adalah Geger Cilegon tahun 1888 yang dipimpin oleh KH. Wasid.

Selama di pengasingan Kh.Asnawi tetap melakukan Dakwah mengajarkan Alquran dan Tarekat kepada masyarakat sekitar dan setelah dirasa Aman Kh.Asnawi kembali ke kampungnya di Caringin untuk melanjutkan perjuangan mensyiarkan Islam dengan mendirikan Madrasah Masyarikul Anwar dan Masjid Salapiah Caringin sekitar tahun 1884 Mesjid Caringin ditandai oleh denah empat persegi panjang, pada keempat sisinya terdapat serambi. Arsitektur Masjid dipengaruhi oleh unsur arsitektur lokal, terlihat dari bentuk atapnya dan ditopang oleh arsitektur asing terlihat pada bentuk jendela serta pintu dalam dengan ukuran relatif besar juga pilar-pilar yang mengelilingi Masjid. Menurut cerita bahwa Kayu masjid tersebut berasal dari sebuah pohon Kalimantan yang di bawa oleh Kh.Asnawi ke Caringin dahulu pohon tersebut tidak bisa di tebang kalaupun bisa di tebang beberapa saat pohon tersebut muncul kembali hingga akhirnya Kh.Asnawi berdo’a memohon kepada Alloh agar diberi kekuatan dan pohon tersebut dapat di tebang serta kayunya dibawa Kh.Asnawi ke Caringin untuk membangun Masjid.

masjid_assalafi_caringin

Tahun 1937 Kh.Asnawi berpulang kerahmtulloh dan meninggalkan 23 anak dari lima Istri ( Hj.Ageng Tuti halimah, HJ sarban, Hj Syarifah, Nyai Salfah dan Nyai Nafi’ah ) dan di maqomkan di Masjid Salfiah Caringin , hingga kini Masjid Salafiah Caringin dan maqom beliau tak pernah sepi dari para peziarah baik dari sekitar Banten maupun dari berbagai daerah di tanah air banyak pengalaman menarik dari peziarah yang melakukan i’tikaf di masjid tersebut seperti yang diungkap oleh salah seorang jamaah sewaktu melakukan i’tikaf terlihat pancaran cahaya memenuhi ruangan Masjid yang berusia hampir 200 tahun tersebut . Wallohu a’lam

Sumber

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Siapakh KH. Tubagus Muhammad Asnawi Caringin”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.