Era Tinggal di Jakarta (2017- ...)

Cerita Perjalanan Umroh : Cerita Ibadah di Madinah (Hari Ke-1 sampai Ke-3)


Madinah Al-Munawwaroh, 12 Robi’ul Awwal 1440H

C360_2018-11-21-05-22-40-295.jpg
Saya di pelataran masjid Nabawi, di hari selasa, 12 robi’ul awwal 1440H

Hadir dimasjid Nabi, di kota tercinta nya nabi, dekat dengan makam nabi, dekat rumah Rasulullah Saw, di kota nabi Saw. Di hari kelahirannya. Demikianlah keutamaan saat ini. Hari ini, saya tengah duduk di tempat dahulu kala para sahabat pernah duduk, mungkin sahabat Abdullah Ibnu ummi Maktum ra, mungkin salman Alfarisi ra, mungkin sayyidina ‘ali Ra. Wallahu a’lam.

P_20181120_095728_BF.jpg
Saya di mesjid Nabawi, di hari maulid 1440H

Tinggal 4 jam lagi saja saya berada di kota suci dambaan Ummat Islam ini. Demikianlah hidup, dan inilah keutamaan tempat ini : Bagi mereka yang wafat, pasti ingin kembali ke dunia untuk kembali beramal, bagi yang masih hidup di dunia, pasti ingin berkunjung ke madinah, bagi yang di Madinah, pasti ingin ke mesjid Nabawi bagi yang di masjid Nabawi, pasti ingin ke Raudhah, bagi yang di Raudhah, ingin ke makam Rasulullah Saw.

P_20181118_124528.jpg
Mimbar Khutbah di Mesjid Nabawi

Melihat suasana dan keadaan disini, seolah melihat miniatur kehidupan, ada yang dimudahkan masuk ke raudhoh seperti para Askar, imam, muadzin, keluarga kerajaan, keluarga tokoh di madinah. Namun ada juga yang harus berjuang seperti mereka yang masuk ke Raudhah hari ini, namun ada juga yang tenang saja seperti mereka yang di mesjid dan beranda Nabawi, keadaan nya pun sedang-sedang saja, mungkin mereka mengira tak apa biar shalat di beranda, masih dapat 1000 rokaat, Alhamdulillah. Namun ada juga yang seperti orang-orang yang lebih memilih duduk didepan mesjid itu, pelataran luar mesjid, ah, entah apa yang mereka cari.

P_20181120_061842_BF.jpg
Saya di bagian dalam masjid Nabawi

Pagi ini di 12 robiul awwal waktu Madinah, di jam 5.02 waktu Madinah, hamba menulis untuk meresapi relung hati, memanggil kesadaran yang seakan hilang, memanggil rasa cinta yang masih mengambang, mencoba memijakkan hati dan mata dan telinga dan kesadaran bahwa hari ini hamba berada di kota Madinah almunawwaroh.

DSC_0031.JPG
Saat berpamitan dengan keluarga untuk berangkat umroh ke tanah suci

Saat masih di tanah air, hamba fikir sudah cukuplah rasa rindu ini mengharapkan datang ke tanah Haram. Akan bahagialah disana, akan sehat, akan beribadah dengan mudah, bebas dari godaan, lancar, sehat. Namun ibadah tetaplah ibadah, di satu sisi kita akan diberi pahala, di satu sisi akan selalu ada ujian. Karena faktanya, semua tidak semudah yang di bayangkan.

DSC_0297.JPG
Bandara internasional Madinah

Saat tiba di Bandara Madinah di hari Sabtu, 9 robiul awwal, di jam 21.20 badan memang sudah berasa ga enak, tapi belum parah, masih separuh kesadaran saja. Setelah diuji dengan antrian yang salah strategi (lagi-lagi) kami keluar bandara di jam 10, lalu transportasi ke hotel jam 11, setelah mengurus check in dan beres-beres kita sampai siap untuk ke masjid Nabawi jam 12 malam, bareng 2 bapak-bapak sekamar saya, pak Parmin dan pak kambali.

DSC_0406.JPG
Berfoto bersama Pak Parmin selepas memenuhi nadzar atas keselamatan Jabir di Raudhoh

Pak Parmin adalah seorang buruh tani yang mengikhlaskan tabungan umrohnya begitu saja untuk biaya berobat saudaranya sedangkan pak kambali, adalah seorang pahlawan lingkungan yang memperjuangkan kelestarian lingkungan desanya dari abrasi dan banjir rob dengan menanam mangrove. Senang sekali saya sempat melalui hari bersama tokoh-tokoh pahlawan seperti mereka, khusunya Pak parmin, berdasarkan cerita yang  saya baca beliau tengah mengalami pengapuran di kakinya, namun semangat ibadahnya, saya kalah dari beliau.

Saat pertama melihat menara masjid Nabawi, kami sampaikan salam kepada Habibana Muhammad Saw. Pun saat melewati Jannatul Baqi. Kami sampaikan salam kepada para sahabat dan syuhada disana.

P_20181118_102158.jpg
Suasana perataran masjid Nabawi saat payung-payung raksasanya terbuka

Ternyata beginilah Madinah, beginilah masjid Nabawi. Saya pikir, Allah SWT akan membantu saya dengan menerbitkan rasa haru, tangisan yang nikmat, dan cinta yang menggebu saat tiba di Madinah. Tapi ternyata, Allah SWT masih menyisakan sisi manusiawi saya, memberikan kesempatan bagi saya untuk lebih baik dalam bershalawat, mencintai dan menyadarkan hati saat detik-detik ibadah ini.

P_20181118_103407
Suasana interior masjid Nabawi hasil perluasan

Pagi ini adalah hari ketiga saya di Madinah, hari terakhir di Umroh kali ini, sebelum akhirnya pergi ke Mekah untuk berumroh. Saya masih bertanya untuk apa saya kesini? Apakah untuk bershalawat dan berziarah ke makam Rasulullah Saw? karena ingin tahu? Namun hamba seolah lupa, besarnya rindu saat bershalawat di tanah air, saat menangis berharap beliau Hadir dan ada didekat saya, disini, saat pertama kali berjalan dari Raudhah menuju makamnya, hamba hanya terdiam, biasa saja. Celaka kata saya, kemana rindu itu? Hamba malu.

P_20181119_043839.jpg
Salah satu gerbang di makam habibana Muhammad SAW

Malam itu, selepas jama’ takhir shalat di gerbang pintu masjid Nabawi, kami memutar ke bagian depan, meminum ZAM ZAM bergelas gelas, saking senangnya bertemu ZAM zam, sampai minum 9 gelas lebih dan saya pun sampai 3 kali bolak balik ke toilet.

P_20181118_120344.jpg
Mimbar Rasulullah SAW di raudhoh. Diambil saat saya berhasil shalat berjamaah dzuhur di raudhoh

Yang saya ingat adalah nadzar saya untuk bershalawat di makam nabi Saw, saya bershalawat di tempat shalat di hadapan makam nabi, di Raudhah, dan saat berjalan melintasi maqam nabi SAW. semoga lunas sudah nadzar saya, saat Allah SWT menyelamatkan Jabir dari masa-masa kritis nya kemarin, saya memang bernadzar 100 kali shalawat di makam nabi jika Allah SWT berkenan menyelamatkan Jabir yang saat sehari sebelumnya kritis karena sebuah kecelakaan.

P_20181118_102203.jpg
Salah satu pintu masuk mesjid Nabawi yang sering saya lewati : Pintu 19-20

Kitab du’a kang Jihad selama saya di pondok, juga tulisan do’a do’a saya bacakan di Raudhah. Entah, sudah 5 kali saya kesana, sesekali saya menangis memang, namun kadang berasa kurang greget gitu. Ah, mungkin saya terlalu merasa ingin dispesialkan, terlalu merasa ingin diperhatikan Rasulullah Saw. Dan khawatir nya, merasa lebih baik daripada yang lain.

P_20181118_104207_BF.jpg
Suasana jamaah saat berbaris di raudhoh

Maka kali ini, mungkin iya, saya sadar, saya terlalu berharap menerima balasan dari Allah SWT tunai semasa disini. Ingin kembali merasakan haru saat bershalawat sewaktu tinggal di Laguna, haru saat melihat Jabir selamat. Mungkin balasan Allah SWT tak harus tunai sekarang. Banyak nikmat Allah SWT yang sudah saya terima, hanya tidak saya syukuri dengan baik. Saya mungkin hanya harus bershalawat saja, biasa saja, tanpa harus berhati lebay.

P_20181118_124610.jpg
Antrian jamaah yang berziarah ke makam Rasulullah SAW

Ya, yang saya khawatir saya hanya mencari sesuatu untuk ditonjolkan, untuk diceritakan, untuk dilihat berbeda, spesial atau lebih baik. Saya takut ini yang membuat saya tidak nyaman hati selama ini, yang akhirnya berakibat fatal juga bagi badan. Saya juga kahawatir dengan tingginya fokus pada foto, membeli kamera, memotret di banyak waktu, buat apa? Tak berpahala… Insyaallah, saya hanya berniat semoga  saya bisa gunakan untuk memberikan semangat bagi pembaca untuk datang ke Baitullah.

P_20181118_160738.jpg
Suasana masjid Nabawi saat Jamaah tengah menunggu waktu shalat

Saya ingin berpesan bahwa untuk Anda yang ingin berkunjung kesana maka berhati-hatilah dengan para pemakan waktu yaitu merokok. Nganggur, merokok, nganggur merokok. Akan membuat waktu siang yang berlalu cepat di dua tanah suci semakin cepat berlalu.

DSC_0419.JPG
Salah satu tampak menara masjid nabawi di malam hari

Saya juga ingin berpesan dengan kuat untuk  Anda yang ingin kesana agar mempersiapkan dan menjaga kesehatan badan. Mungkin alangkah baiknya jika saya saat itu menyesuaikan diri dengan kemampuan dalam beramal. Dan lebih baik lagi jika saya mampu benar-benar mengontrol stress saya, misalnya dengan benar-benar memasrahkan keluarga kepada Allah SWT. Bukan sekedar omongan, namun benar-benar menitipkan.

DSC_0574.JPG
Masjid Quba

Tinggal 2.5 jam lagi saja sebelum pergi ke bir Ali, lalu umroh ke Mekah nanti malam. Alhamdulillah Ya Rabb, Engkau panggil hamba dan mengizinkan hamba untuk berkunjung ke sini.

DSC_0400.JPG
Pelataran Masjid Nabawi, malam hari

Saat sampai, seperti yang dijelaskan di awal, saya segera bershalawat sampai jam 12, shalat lalu jalan ke Raudhah hingga jam 1, malam itu juga kami langsung menyantap hidangan di roudhoh dan makam Rasulullah, menyampaikan salam dari seluruh keluarga dan handai taulan. Sampai jam 2 saya keluar lalu balik lagi, sampai jam 3 saya keluar lalu balik lagi, lalu i’tikaf dan tidur sampai jam 4, lalu shalat subuh dengan menahan pipis kebelet karena kebanyakan minum zamzam. Saya terlalu optimis bahwa zamzam tidak akan keluar menjadi air kencing, saking senangnya bertemu bertong-tong zam-zam sekalinya saya minum 3 gelas lebih.

DSC_0443.JPG
Masjid Nabawi Malam Hari

Alhamdulillah malam itu kami masih dikuatkan Allah SWT. Semoga rasa senang dan harapan tinggi dalam berdo’a di Raudhah mendapatkan ijabah dari Allah SWT. Selepas shalat subuh, kami pun makan lalu istirahat. Jam 10 jamaah ke Raudhah lagi, sambil membaca QS Arrahman, kami masuk, shalat walhamdulillah dapat rejeki shalat di Raudhah, di belakang Imam. Adalah ampunan dari Allah SWT dan semoga bisa menjadi sumber perhatian bagi Rasulullah Saw, karena saya pun sungguh berharap untuk dapat menatap beliau, di do’akan beliau dan mendapatkan syafaat kelak.

P_20181118_124523.jpg
Gerbang keluar dari raudhoh

Jadi ini tips untuk pembaca yang ingin bisa shalat berjamaah di raudhoh, maka ini hanya saran saya karena sudah dua kali berhasil, berangkatlah ke raudhoh jam 10 pagi. Sampai jam 9.30 biasanya raudhoh masih dibuka untuk kaum ibu sehingga masih ditutup untuk kaum bapak. Jika kita mulai mengantri jam 10, bacalah QS Madaniyah seperti QS Ali imron dan Arrahman, menunggu 90 menit maka jam 11.30 insya allah kita sudah bisa masuk ke raudhoh. Di jam segitu biasanya orang sudah mencari tempat untuk shalat berjamaah dan bisa di jami masjid nabawi sudah penuh, tinggal sekitar 30 menit saja menuju dzuhur, maka tidak perlu beranjak, cukup perbanyak shalat saja, shalawat dan do’a disana. Insya allah tidak akan diusir, karena askar pun sudah mafhum. Jika beruntung, insya allah kita akan bertahan disana hingga adzan dzuhur berkumandang lalu kita bisa shalat berjamaah di raudhoh.

P_20181119_033006.jpg
Motif karpet di raudhoh

Selepas shalat Dzuhur, kita istirahat kembali, lalu ba’da ashar kita ke museum sampai Maghrib, lepas Maghrib saya istirahat lagi untuk persiapan malam kembali ke Raudhah setelah memotret perjalanan mamah ke Raudhah. Demikianlah kegiatan di hari pertama di Madinah.

P_20181118_171715.jpg
Salah satu kaligrafi di museum Al-Qur’an

Senin, menjadi hari kedua. Waktu di Madinah ini berjalan tanpa terasa dan amat cepat. Hari kedua, saya bergegas ke Raudhah di jam 3 sampai subuh. Berdoa terus, berdoa lagi, berzikir terus, berharap hingga subuh. Pak Sarif dan pak Parmin yang saya ajak Alhamdulillah kebagian shalat subuh di Raudhah. Saya tidak, segera saja bergegas berjamaah di pelataran belakang.

P_20181120_085719.jpg
Koleksi Alqur’an dengan terjemahan berbagai negara di sudut mesjid Nabawi

Sekedar berbagi cerita sendal saya sempat saya kira hilang 2 kali, tapi ternyata dibawa teman dan saya yang ceroboh saja penyebabnya. Ba’da subuh setelah makan, saya bergegas ke bus untuk tour kota Madina, shalat di masjid Quba yang saya sayangkan tidak wudhu dari rumah padahal ada hadits : Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang telah bersuci (berwudhu di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba lalu shalat di dalamnya dua rakaat, maka baginya sama dengan pahala umrah.” (Sunan ibn Majah, no 1412).

P_20181119_085629.jpg
Suasana di dalam mesjid Quba

Lalu kami melihat bukit Uhud, mesjid Qiblatain dan mesjid khandak. Ya Allah Uhud… Dan bukit pemanah menyemut juga manusia disana. Padahal kami sudah sampai di sana, tapi tidak bisa turun. Hanya haru saja, melihat langsung tempat kejadian perang yang diulas di QS Ali Imran itu.

DSC_0744.JPG
Suasana wisawatan yang menaiki bukit  rumat di komplek bukit uhud

Ba’da Dzuhur kita istirahat lagi, dan jam 2 kembali saya berburu Raudhah dan ziarah ke makam Rasulullah Saw. Hingga ashar dan mengikuti manasik. Saat itu kaki sudah tidak karuan. Selepas ketiduran ba’da Maghrib, lalu shalat isya, kami pun pulang, makan dan istirahat sampai jam 3.

P_20181119_095214.jpg
Suasana di kebun kurma

Waktu terus berjalan, berisikan ibadah yang terus berpusat di mesjid Nabawi. Alhamdulillah selama di madinah hotel tidak sebegitu jauh sehingga lebih leluasa untuk lebih sering ke mesjid Nabawi.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Cerita Perjalanan Umroh : Cerita Ibadah di Madinah (Hari Ke-1 sampai Ke-3)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.