Refleksi

Cerita Harian 90 : Hari-hari separuh jiwa


Senin, 18 Robi’ul Awwal 1440H

DSC_0874.JPG
Meski sudah agak mendingan dari kemarin, akhirnya di senin pagi saya roboh lagi. Senin menjadi H+1 setelah kepulangan saya dari tanah suci.

Sejujurnya hingga hari ini (H+15) entah kenapa masih belum berasa normal. Hari senin ini harusnya saya sudah kembali ke Jakarta, tapi saya masih sakit, kepala masih keleyengan, sebuah kondisi ketika kemudian saya baru tahu, itulah namanya jetlag. Lidah pun masih kebas karena flu. Hari itu saya berobat ke Dokter Harsono, setelah sekian lama. Sekalian beli yoghurt dan susu untuk syarat daftar Najmi ke lomba mewarnai, yang akhirnya berakhir kacau, infonya disini dan disini.

P_20181126_173118.jpg

Selasa, 19 Robi’ul Awwal 1440H

Karena tidak enak juga cuti lama-lama, akhirnya setelah mencoba memulihkan diri dari subuh, siang hingga sore hari, saya memaksakan diri kembali ke Jakarta di sore hari dengan kereta. Perjalanan lancar dan mengasyikkan. Asyik…

P_20181127_161651.jpg

Saya duduk di kursi nomor 23, hadap depan dengan pemandangan bagus. Hanya moment roller coaster kembali terasa saat melewati jembatan Cigombong.

Rabu, 20 Robi’ul Awwal 1440H

Entah ada godaan apa hari ini, setelah sadar di jam 4, jam 9.30 saya baru membuka mata. Setelah negosiasi halus dengan atasan, saya pun gamang untuk masuk kerja hari ini. Saya minta extent 1 hari lagi untuk istirahat. Hari ini saya hanya diam saja di rumah, istirahat, menulis, menonton dan membagikan oleh-oleh ke tetangga.

Kamis, 21 Robi’ul Awwal 1440H

Ini hari kedua setelah saya kembali ke Jakarta, namun saya belum sepenuhnya baik. Cahaya matahari datang begitu cepat, sementara saya masih menggapai pada lembaran-lembaran mimpi. Hidup harus terus berjalan.

Akhirnya saya masuk kerja kerja juga. Melajukan motor menembus kalimalang hingga cempaka putih. Entah kenapa, rasanya nyawa masih terkumpul setengah, badan saya disini, tapi tidak dengan jiwa dan fikiran saya, seperti ada yang kurang. Ah, mungkin karena kurang bersyukur saja.

Jum’at, 22 Robi’ul Awwal 1440H

Waktunya mudik lagi, padahal ada jadwal business conference perusahaan se Indonesia, tapi saya cancel, saya mau pulang. Padahal hari ini udah masuk jam 8.30 juga, soalnya mike lewat depan, saya jadi ikut-ikutan! Padahal jadinya saya ketahuan sama para bos.

P_20181130_184449.jpg

Jam 5 saya langsung pulang dengan bus ke bogor, lanjut angkot, lalu bus pelabuhan ratu dan dilanjut angkot dan gojek, sampai jam 10 malam. Badan udah lemes, masih flu sisa dari Umroh. Banyak dosa saya, malah sakit -_-” Astaghfirullah.

Sabtu, 23 Robi’ul Awwal 1440H

Hari sabtu kembali menjalani akhir pekan bersama anak-anak. Menikmati dinginnya Sukabumi dan lebih banyak tidur saja. Saya merasa bersalah karena tidak bisa membantu banyak istri. Beliau dengan rajin mengurus kami sekeluarga, memandikan anak-anak, mencuci baju, memasak, belanja. Dibandingkan saya, beliau itu wonder women.

P_20181201_133340.jpg

Biar bingung dan resah, akhirnya ba’da ashar kita berkumpul juga di kedai kopi di cikole. Setelah menikmati bubur oleh kembali, melihat undangan Neng yang terdapat beberapa titik salah cetak, dan melewati hari yang entah mau diapakan lagi : ngantuk dan diam di rumah saja,

P_20181201_193702_BF.jpg

Ngobrol kesana kesini bareng temen kadang memang itu yang dibutuhkan saat melewati titik jenuh yang mulai menggerogoti waktumu. Bicara apa saja, mulai dari tragedi dengan keluarga, kisah konflik dengan tetangga, godaan dari teman kerja atau kesuksesan teman. Sayang, menikmati kebersamaan bersama teman itu kadang seperti menikmati kopi susu hangat dengan gorengan di pagi hari : gak kerasa, cepet banget abisnya.

Ahad, 24 Robi’ul Awwal 1440H

Hanya diam di rumah, melawan penat, melawan bosan. Badan masih lemah, Jarir pun kena pilek, hujan dan tidak ada kendaraan, keluar pun perlu uang dan tidak murah.

P_20181202_164300_BF.jpg

Jenuh dan uang pas pasan adalah komposisi yang seringkali tidak mengenakkan. Bingung pada hal apa yang harus diselesaikan, bingung pada tugas apa yang menarik, adalah sesuatu yang membuat waktu seperti meminum jamu banyak-banyak.

Tapi hidup harus berjalan, dan tiada jalan untuk berbahagia selain dengan bersyukur. salah satunya dengan mancing ikan yang ternyata malah copot kailnya, hilang pelampungnya : nasib! Akhirnya di sore hari kami menikmati kembali bakso bengawan solo setelah sekian lama. Tuh kan! Nikmat yang manakah yang akan kamu dustakan?

Senin, 25 Robi’ul Awwal 1440H

Sudah niat berangkat ba’da subuh tapi kepala masih berat, mungkin jam 6, tapi ternyata masih kangen rumah, kebayang perjalanan Sukabumi-Jakarta Bagaimana. Pesan kereta jam 10.25 sudah habis, kita kebagian kereta sore, sempat ragu, biar saya naik bus saja, 2 hari yang lalu bocimi sudah di resmikan Pak Jokowi, tapi difikir-fikir malas juga, langit hujan. Akhirnya jadi juga pesan kereta jam 15.25.

Menembus langit hujan sukabumi yang mulai sepi, sukabumi yang tak sama dengan sukabumi yang dulu, zaman sudah berubah, nasib sudah berganti, manusia memang diciptakan sebagai khalifah, tapi dia tidak bisa mengendalikan waktu. Sampai cigombong, saya kembali mencekam, ada jembatan curam yang dilewati dan alhamdulillah lancar. Tanah basah selepas hujan membuat naik kereta berasa naik roller coaster: deg degan.

Sampai di cawang, berlanjut gojek, menikmati bakso malang di kalimalang, sampai di rumah jam 9. Malam masih lembab dan sepi, tapi hari harus terus berjalan.

Selasa, 26 Robi’ul Awwal 1440H

Akhirnya dengan kaki gontai, harus kerja juga, dengan menaiki gojek, padahal sudah berangkat pagi tetep aja kesiangan, jam 7.20 sudah sampai di penas kalimalang sebenarnya, tapi tetap saja kesiangan. Bareng bronand kita menembus Jl. DI panjaitan dari penas kalimalang hingga cempaka putih.

Masih tidak ada meeting apa-apa di pekan ini, hanya menyelesaikan tugas kecil saja, nyawa masih belum berkumpul sepenuhnya. Ibadah masih belum full sepertinya. Harus berjuang lebih!

Pulang dengan motor saya pulang agak malam, habis maghrib karena menyelesaikan tulisan dan update foto-foto selama Umroh. Malam datang masih tak karuan. hanya bisa pasrah saja

Rabu, 27 Robi’ul Awwal 1440H

Masih kacau, hari kedua kerja, bekerja hampa, di rumah pun hampa, biar pun sudah makan ricis fektori, udah makan enak, udah tinggal di rumah yang besar, tetap saja ga enak.

Entah kenapa, padahal sudah menerima gaji terbaik, makanan terbaik, jadwal kerja terbaik, tapi saat sendirian, rasanya semuanya hampa. Mungkin benar, semuanya itu fana, semuanya itu hampa.

Saat gaji lebih baik, kamu meyangkan kebersamaan yang dulu ada dan sekarang hilang, kebersamaan teman kantor, kebersamaan teman kuliah. Dan entah kenapa, dulu mungkin suka game, suka main musik, sekarang hobi hobi itu mulai pudar. Entah apa hobi saya sebenarnya, entah apa kegemaran saya, pudar, menulis pun lama-lama bosan juga. Jujur, ya ga bisa seharian juga. Hobi pun ada batasnya.

Kamis, 28 Robi’ul Awwal 1440H

Hari ini saya masih gamang, setelah sukses semalaman coba bertahan, akhirnya pagi hari saya tumbang lagi. Selepas shalat subuh saya tidur bablas menembus jam 6.30, 7.00 hingga akhirnya 7.30.

Jam 8 saya baru berangkat lalu melewati hari seperti biasa. Masih gamang, entah karena jauh dari istri, entah karena saya belum juga baik dalam membenahi diri. Hari berjalan berat, agak terasa hampa. Say amasih mencari cari, mau kemana saya pergi? harus bagaimana? sudah baikkah cara hidup saya?

Saya pun bingung, 65% gaji habis untuk konsumsi, hanya 10% yang jadi infak sementara sisanya 25% saja yang menjadi investasi. Saya fikir mungkin konsumsi saya terlalu besar, dari 65% itu 42% masuk ke sektor konsumsi rutin inti (makan, keperluan dan transportasi) sisanya 23% masuk ke sektor kontrakan (sewa rumah dan keperluan dadakan). Sektor kontrakan hampir tidak bisa di hilangkan, hanya sektor keperluan dadakan (kadang sepeda, kadang biaya berobat, kadang biaya pakaian, kadang biaya perabot, dsb) itu pun agak susah di eliminasi karena selalu ada aja tiap bulan. Bulan ini saja saya harus bulak balik sukabumi-jakarta dan jemput istri ke jakarta yang biayanya bisa sampai 600rb’an sendiri -_-”

Hanya mungkin yang 42%? Kalau saya pecahkan yang 10% memang keperluan bensin dan keperluan rutin seperti popok, susu, sikat, sampo, dsb. yang 32% itu rasanya sudah standard. Memang sepertinya wajar untuk UMR jakarta. dengan pecahan 8% per pekan, berarti 1% perhari. Untuk kami berempat, memang sebegitulah biasanya. Ya Allah. Benarkah saya harus menyisihkannya untuk berinfak? Lalu bagaimana dengan kebutuhan keluarga saya? Saya takut dzolim dengan keluarga saya sendiri.

Semoga Allah SWT memberi saya petunjuk untuk bagaimana bisa berinfak lebih baik, tetap menjamin kebutuhan keluarga dan bermanfaat untuk masyarakat. karena ketiganya baik, tapi saya baru bisa memaksimalkan salah satunya karena keterbatasan sumber daya. Sulit bagi say auntuk benar-benar mengimani nasihat udah sedekah aja, kebutuhan akan selalu ada. Sementara di sisi lain saya diingatkan untuk bisa seimbang, meski kadang dengan batin tertekan karena tidak bisa memberi maksimal, saat ada kebutuhan keluarga, ada kebutuhan lain, ada permintaan lain, ada yang membutuhkan. Maafkan saya Ya Allah. Dan hamba mohon petunjuk-Mu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.