Era Tinggal di Jakarta (2017- ...)

Cerita Harian 91 : Cerita Berganti, Kehidupan Berganti


Aa gym bilang : Kunci untuk benar-benar menikmati kehidupan ini adalah dengan ridho dengan bagaimana Allah SWT mengatur rejeki diantara kita semua. Yakin bahwa semua sudah tercatat di Lauhul mahfudz jauh sebelum kita tercipta dan yakin, bahwa apapun yang kita dapatkan hari ini, itulah yang terbaik bagi kita.

Saya Matlaul Anwar, seorang bapak 3 anak di usia 30 tahun. Ini catatan kehidupan saya beberapa hari kebelakang :

Jum’at, 29 Robi’ul Awwal 1440H

Para juragan bertim building di puncak sedang kami harus masuk kerja. Jadi saya mohon ijin saja setengah hari, mau pulang saya ke Sukabumi siang ini, selepas jum’atan.

P_20181207_130657.jpg
Cempaka Putih di Jum’at Siang

Menembus jakarta dengan busway dan pertama kali ke kp. rambutan via tol dari cililitan menyambung bus yang hampir saja ketinggalan di pasar rebo dan sampailah di sukabumi yang mengericik hujan di sore hari.

P_20181207_140259_HDR.jpg
Beda muatan, beda tujuan tapi tetap seduluran

Rumah masih ramai, suasana hajat dimana-mana. Kami masih tinggal di rumah kulon. Meski hanya diam saja di rumah seharian. Istirahat. Teringat diki lagi update status sedang di Selabintana, tadinya pengen ngajak ngopi lagi. Sayang, dia udah mudik.

P_20181207_151406.jpg
Hujan di Cicurug

Sabtu, 30 Robi’ul Awwal 1440H

Di tengah rumah kue menumpuk, kado-kado berdatangan ke adik, di dapur ibu-ibu tengah asyik masak. Saya hanya bantu jaga anak-anak saja, bermain dengan mereka dan menikmati saat-saat ramai seperti ini. Momen seumur hidup sekali.

P_20181208_074830.jpg

Hari itu saya diajak ummah untuk mengantar undangan ke KTM, melihat kebun yang mau dijual di ciburial, berkunjung ke sunanul huda dan melihat gua KTM lalu menikmati bakso legendaris mas ompong yang harganya masih ekonomis dan mengenyangkan serta rasa yang tak berubah setelah lebih dari 15 tahun. Lalu kita pulang, dan hari berlanjut sebagaimana biasa, masih ceria seperti biasa.

P_20181208_145116.jpg

Ahad, 1 Robi’ul Akhir 1440H

Selepas seharian bermain dengan anak-anak. Ahad sore saya kembali ke jakarta menaiki angkot yang sambung menyambung. Sampai cisaat, cibadak, sambung ke cicurug lalu naik angkot dengan penumpang yang bingung karena mau turun di cimelati alibaba.

Dan akhirnya saya kembali menaiki mobil “omprengan” sampai ke Cawang. Sudah kelewat malam, jam 9 kayanya jadi sudah habis bus ke rambutan. Menyambung dengan angkot jurusan kranji dan disambung greb sampai ke rumah. Kasihan sebenarnya, jam 11 waktu itu, driver mau pulang ke cikarang.

Senin, 2 Robi’ul Akhir 1440H

Hari kerja seperti biasa saja, pagi hari ada diskusi dengan SRE dan meeting via circuit terkait sebuah aplikasi zaman now yang berfungsi sebagai combinator lintas platform. Ajaib juga sih, orang bisa membuat aplikasi semacam itu. Bayangkan! Kita tidak perlu membuka 3 aplikasi dan cukup menggunakan satu aplikasi ini saja. Mantap.

Malam harinya berjalan biasa, galau. Tak ada anak, tak ada istri, tidur malam selepas menikmati mortal engines. Psst.

Selasa, 3 Robi’ul Akhir 1440H

P_20181211_141700.jpg

Saya bekerja setengah hari, tak banyak yang bisa dikerjakan. Tak ada meeting. Hanya menyelesaikan tugas-tugas minor saja, sekalipun mau liburan panjang di pekan ini.

P_20181211_110355.jpg

Selepas makan siang bergegas saja membawa motor dan sekotak jengkol. Ya, hari ini ada kopi, kerupuk kemplang dan jengkol yang tiba dari Pak Jasmanto di Palembang. Benar baik hati bapak beranak 8 ini. Terharu saya dibuatnya. Tak kenal Bapak Jasmanto? Berikut profilnya :

Siang hari

Hari berlanjut  dan motor menderu dengan sedikit problem di kopling dan hujan deras di gerbang tol Cijago. Petir menyeramkan, alhamdulillah hari ini masih selamat. Sampai maghrib di Yassira, moment 10 tahun itu kembali terulang, tetiba ada rasa damai disini. Ya Allah, inikah yang saya cari selama ini? Saya harus banyak berzikir.

P_20181211_201501.jpg

Rabu, 4 Robi’ul Akhir 1440H

Hari persiapan menuju pernikahan, tinggal sehari saja, saya hanya bantu sebisanya saja. Membenarkan pipa air, menghabiskan makanan, menyiapkan kamera 🙂 Tak banyak.

P_20181212_073016_HDR.jpg

Malam harinya baru ada gladi resik ba’da isya. Saya paling vokal saja, ternyata praktiknya hanya saat tamu undangan datang saja, selebihnya hanya duduk saja. Di skenario awal acara dimulai dari jam 8 lalu resepsi di jam 11. Ya, kami coba merencanakan acara semaksimal mungkin, serapih mungkin, sedetail mungkin. Hingga mungkin orang tua agak sedikit repot dengan hal mendetail begitu. Kami hanya membantu. Jam 9.30 rapat selesai. besok acara sebenarnya akan dimulai.

Kamis, 5 Robi’ul Akhir 1440H

Hari pernikahan! ini hari H. Selepas shalat subuh kami sudah mempersiapkan diri. Dari jam 8 sudah menunggu pengantin di jalan. Tapi tak datang-datang. Kabarnya menunggu buya selesai pengajian pekanan dan turut serta bahkan menjadi wali di pernikahan ini.

P_20181213_074013_HDR.jpg
All kids Brother

Alhamdulillah dengan sedikit “mengebut” jam 11 acara selesai dan kami pun bertugas seperti yang “ditugaskan” mulai dari penyambut tamu hingga pengambil piring. Jam 4 selepas ashar acara usai, selepas saya bershalawat juga “isyfa’ lana” di acara itu.

P_20181213_091249.jpg

Selepas acara, hujan lebat datang. Kami beristirahat hingga malam, anak-anak bermain bersama saudara-saudaranya. Hari yang indah saat keluarga berkumpul. Hari itu pun saya menangis keluarga banyak yang datang, alhamdulillah. Mulai dari keluarga cirenged, tarisi hingga Bandung. Alhamdulillah kali ini semuanya datang dan berkumpul, setelah sekian lama.

P_20181213_110056

Jum’at, 6 Robi’ul Akhir 1440H

Hajatan selesai. Ah, dari pagi saya diminta datang ke rumah Bapak. Saya sungkan, malu dan bingung. Entahlah, biar saya tak tulis saja isi hati saya :), hari itu saya menikmati bubur oleh, berkeliling ke PH bareng ummah dan bernostalgia. Hanya saja motor takut mogok dan anak di rumah pastilah lama menanti, jadi kami hanya lewat saja, tak mampir lama-lama.

P_20181214_165101.jpg

Hari itu neng juga membelikan mobil remot untuk Najmi. Sesuatu hal istimewa yang saya janjikan Jika Najmi tamat iqro 2. Datang lebih awal. Tak apalah, Najmi bahagia benar sepertinya.

Agak siang sedikit, saya antar mamah pulang ke KTM. Tak ngobrol banyak, hanya tanya saja, langsung pulang? Dan mamah KTM hanya bilang : “terserah”.

Selepas istirahat dan jum’atan, lantas saya membeli obat untuk bapak aki ke apotek waras. Lalu pulang, tak lama saya di luar. hari itu kami putuskan, biar pulang saja besok, tak perlu ikut ke Bogor. Mungkin lain waktu lah kesana. Yang penting adik bahagia saja di sana, senang nampaknya dengan pilihan hatinya. Alhamdulillah.

Sabtu, 7 Robi’ul Akhir 1440H

Di hari sabtu, dengan kaki setengah tergantung akhirnya kita mulai bersiap-siap pulang. Jam 5.30 kita semua mandi, lalu sarapan dengan nasi goreng buatan ibu, berkemas, merapihkan kamar, lalu jam 7 kita berangkat ke Jalur diantar Neng dan suaminya.

P_20181215_075444_BF.jpg

Saya masih tidak menyapa lebih dari yang dibutuhkan. Tak apa, saya bilang. Kami masih banyak waktu untuk saling mengenal. Insya Allah.

Bus melaju pelan, menembus cisaat, cibadak, parung kuda dan cicurug. Untung anak-anak tertidur pulas dan bus kosong serta dingin. Meski perjalanan lambat dan panjang. Jam 1 kita baru sampai Jakarta. Lalu disambung angkot ke pondok gede dan berlanjut dengan gocar. jam 14.30 kita sampai rumah.

Sisa waktu hari itu kita pakai berbenah rumah saja. Mengelap rak yang berlumut, menyapu dan mengepel rumah, menyisihkan baju kotor dan memandikan anak-anak. Di sore hari saya mengajak anak-anak berkeliling kampung, mengunjungi lapangan bola dekat rumah. Najmi tersungkur saat terlalu ngegas di turunan, kakinya lecet, jadi saya belikan plester untuk melindunginya. Najmi masih harus diasah keberanian dan kekuatannya. Semoga Allah SWT menjadikannya anak yang kuat. Dulu saya pun percaya Najmi anak yang kuat, seperti sekarang saya melihat Jabir. Ah, semua anak saya do’akan untuk selalu kuat. Insya allah.

Ahad, 8 Robi’ul Akhir 1440H

Sudah lama hari berlalu. Ada rasa gamang memang, masih. Dan kini waktu terasa melambat. Tapi hamba tiada memiliki daya apa-apa selain hanya berdo’a saja dan bertawakal. menjalani hari bahagia seperti yang lainnya, meyakini bahwa Allah senantiasa memberikan keadilan dan yang terbaik bagi hamba-Nya, dan selalu yakin bahwa tiada hari yang akan datang selain Allah SWT akan mendekati hamba-Nya, memenuhi do’a hamba-Nya, dan menjanjikan kesempatan yang lebih baik bagi hamba-Nya. Saya yakin.

P_20181216_200932.jpg
Dijual : Nikon D3000

Hari ahad memang kami agendakan untuk bebenah rumah saja, dari pagi kami mulai dengan mengelap lemari, mengepel rumah, mengelap rak, membersihkan dapur, mencuci baju. Alhamdulillah hari terang. Sore itu saya mengajak anak-anak ke taman di perumahan bawah kontrakan. Najmi sudah tak sesemangat dulu main prosotan, lalu lari-lari bersama seorang kawan yang dia kenal disana, namanya Ari.

Saya mengajak Jarir, selain karena Jabir sedang beristirahat, juga karena tadi pagi Jabir yang diajak ummah ke warung. Saya mengajak nya berjalan mondar mandir saja di lapangan. Senang nampaknya dia, meski dengan ekspresi sederhananya. Mungkin pekan depan kami kesini lagi, membawa kamera.

Senin, 9 Robi’ul Akhir 1440H

Kembali menjalani aktivitas di rumah selepas sebulan tinggal di kampung jelas memberikan kesan yang khas di setiap moment ini berulang. Ya, anak-anak biasanya jadi sedikit “manja” sehingga kami harus berusaha melatih mereka lagi untuk lebih bersabar.

Najmi kadang merengek, Jabir jarir bergiliran tidak mau lepas atau jauh dari ummahnya. Kami sering berspekulasi, mungkin karena di kampung mereka ada banyak yang “menyambut” dan mengasuh. Disini? mereka hanya berkomunikasi dengan kami berdua saja.

Waktu kami pulang ke jakarta, Najmi ditawari untuk tinggal di Sukabumi saja bareng kakek neneknya selama setahun. Saya tidak bisa mengizinkan, selain karena hasil istikhoroh pun tidak mengizinkan, juga karena Najmi dititipkan Allah SWT kepada kami, sehingga biarlah kami yang mencoba belajar ini untuk mendidik dan mengasuhnya dalam hidup kami.

Senin berlalu dengan indahnya, langit yang cerah di desember kedua kami di Jakarta. Saya sampai di kantor lebih awal : 7.30. Belum ada meeting, saya hanya mencoba menumbuhkan kembali semangat kerja selepas sepekan liburan di bulan penuh libur ini.

Tak ada pengajian di sore hari, namun saya mencoba menyusun strategi untuk menaikkan biaya kontrakan di tahun depan. Sudah saatnya saya fikir, meski agak gak tega. Lihatlah dulu, mudah-mudahan ada rejekinya tahun ini.

Seperti rejeki yang Allah SWT berikan kepada teman, saya mengajukan CV nya untuk bekerja di perusahaan lama saya. Dan alhamdulillah, langsung diterima. Semoga gajinya cocok.

Selasa, 10 Robi’ul Akhir 1440H

Hari ini, hujan lebat mengguyur pulomas dan sekitarnya. Entah sampai kapan saya disini. Saya harus mensyukurinya, atau suatu saat saya akan diminta pergi tanpa pernah menyadari bahwa kita menyayanginya. Ya begitulah, saya harus lebih berlatih dalam mengungkapkan ide secara sederhana.

Ada anak internship dari semarang yang join sejak kemarin. Ada VSM yang harus segera selesai pekan ini, ada Jabir dan Jarir yang terus melatih dirinya berjalan dan bicara lebih keras dari siapapun di rumah, ada masakan yang super lezat menanti, dan ada istri yang begitu baik hati.

Maafkan saya, ummah. Terkadang sulit mengendalikan amarah, terima kasih karena selalu menjadi peredam dikala emosi menyala, selalu menjadi perindu dikala jauh, menjadi penghibur dikala hampa, menjadi partner yang membahagiakan selama ini. Semoga saya bisa jadi suami yang hebat baginya, sebagaimana dirinya telah menjadi istri yang hebat bagi saya, dan ummah yang istimewa bagi anak-anak.

Hari ini saya diskusi juga dengan A rully, setelah sekian lama. Topiknya masih tentang hal yang klasik : Pantaskah saya menjadi manager. A rully memberikan beberapa wejangan khususnya tentang menjalani hidup sebagai manajer yang berarti harus lebih bisa meluangkan waktu dan memiliki kepemimpinan yang baik menghadapi generasi millenial yang memang berbeda dengan angkatan kerja saya dulu. Diposisikan sebagai pemimpin siapapun bisa, namun dianggap sebagai pemimpin oleh tim, itu hanya ornag pilihan saja. Saya harus bisa di posisi itu.

Hari ini ma ejeh wafat, jam 8 pagi. Innalillahi wainna ilaihi rooji’un. Do’a sedalam-dalamnya saya haturkan secara pribadi teruntuk beliau yang baik hati dan berbanjir do’a.

Rabu, 11 Robi’ul Akhir 1440H

Rabu, ada satu meeting bareng MM aja, pekerjaan masih menikmati hari seperti biasa. Bersyukur dan beribadah, begitu saja. Ya, Mr. Internship dikenalkan dengan system kanban. Dan pagi hari ada Mr. W dari phoenix menelaah pembuatan template baru di clproject. Ah, indahnya pekerjaan begini, meminta tolong para senior.

Ada pengajian pekanan seperti biasa di rumah, cuma yang ada saya malah semakin rikuh saja. Ah, harusnya saya berani, harusnya saya bersikap biasa. Jangan kabur cuma karena bapak-bapak yang tanpa bosan menawarkan terapi! Astaghfirullah.

Kamis, 12 Robi’ul Akhir 1440H

Ada jadwal meeting dengan supervisor warehouse, tapi beliau tengah cuti hari ini. Lain daripada itu, saya mulai kefikiran untuk discontinue blog ini. Mungkin sudah saatnya saya menemukan moment untuk berhenti, dan sepertinya moment itu sudah tiba.

Sudah saatnya saya mulai serius dalam memahami dan meningkatkan produktifitas kerja dan menulis Buku serta menjalani kehidupan normal seperti biasa 🙂 Meski sekarang sudah biasa, juga sih ^^.

P_20181220_175144.jpg

Kamis berjalan manis, cuaca cerah, jalanan lancar dan shalat di mesjid. Nikmat mana lagi yang kita dustakan? Ada es krim dari Mr. Attaturk siang ini, hanya tinggal satu saja, dinner 🙂 Harapannya ya kita bisa dinner dengan romantis, becanda bersama, nonton bareng, tertawa bareng. Tapi kali ini sedikit sensasional : Najmi merajuk karena mau makan dengan ayam goreng, Jarir nangis gak tahu kenapa, haus sepertinya, Ummah digigit semut karena rumah diserang semut godzilla yang berevolusi dengan kedatangan tanpa harus ada makanan. Jabir pun memainkan centong hingga ikan dipukul-pukul, nasi dipukul-pukul. Disertai semut yang menyerang secara progressif di 4 titik penjuru rumah, laptop rusak, tv rusak, kuota sekarat dan jaringan lemot. Mantap sudah. Memang, kadang mengeluh itu sedikit melegakan, tapi menegeluh tak menyelesaikan apa-apa 🙂 Hanya sebait cerita saja selagi anak-anak usia batita, untuk dikenang di masa depan.

P_20181220_131948.jpg
Es krim malay nih dari Mr. Attaturk

Jum’at, 13 Robi’ul Akhir 1440H

Meski mahal, menaiki angkutan umum membawa berkah tersendiri, salah satunya adalah saya jadi bisa membaca buku sepanjang menaiki Busway dan angkot.  Pekan ini saya 80% menyelesaikan buku Strong Leadership & Performance Budgeting. Amat menarik karena saya disuguhkan pada beberapa paradigma dalam pengambilan keputusan terkait Birokrasi dan adiministrasi pemerintahan serta berkenalan dengan beberapa tokoh pemimpin dunia disertai prinsip-prinsip yang dianutnya.

P_20181221_080427.jpg
Moment langka di jam

Entah akan seperti apa hari ini, semoga lebih baik dari sebelumnya. Ada bapak yang tumbennya menelepon pagi dan rupanya membutuhkan sedikit bantuan untuk acara Ahad. Hari ini kita jum’atan, mengambil Paket Majalah Bobo yang salah kirim, lalu pulang, makan malam. Dan Long Weekend pun datang, Kita Libur 4 hari, hari ini saja Busway sudah pada kosong saja, jalanan pun lengang. Pengen mengajak anak-anak berlibur, mungkin kita ke seaworld? Kejutan lain hari ini adalah, saya dapat telepon dari Tangerang, akankah?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.